FRAMEWORK FOR CLASSROOM ASSESSMENT IN MATHEMATICS
Penilaian

Wiggins (1992) menunjukkan, cukup benar, umpan balik itu sering dikacaukan dengan nilai tes. Persepsi ini merupakan salah satu indikasi bahwa umpan balik tidak dipahami secara benar. Penilaian pada test adalah informasi yang dikodekan, sedangkan umpan balik adalah informasi yang menyediakan pelaku dengan wawasan langsung yang dapat digunakan kedalam hasil saat ini dan didasarkan pada perbedaan nyata antara hasil saat ini dan hasil yang diharapkan.

Jadi yang kita butuhkan adalah umpan balik kualitas di satu sisi dan "skor" untuk mencatat perkembangan dalam cara yang lebih kuantitatif di sisi lain. Dan cukup sering kita perlu menerima bahwa kita tidak mampu mengkuantifikasi dalam pengertian tradisional (misalnya, dalam skala satu sampai sepuluh), tapi buatlah catatan singkat kapan, Selama wacana atau saat mengerjakan pekerjaan rumah, seorang siswa melakukan sesuatu yang istimewa, apakah bagus atau buruk.

Banyak format yang dijelaskan sebelumnya memiliki kesamaan bahwa mereka bebas melakukan format respon. Analisis tanggapan siswa terhadap item respons bebas dapat memberikan wawasan yang berharga Sifat pengetahuan dan pemahaman siswa dan dalam pengertian itu membantu kita merumuskan kualitas umpan balik. Dengan format seperti itu kita mendapatkan informasi tentang metode yang digunakan siswa dalam mendekati masalah dan informasi tentang kesalahpahaman atau jenis kesalahan yang mungkin mereka tunjukkan.

Tetapi seperti yang diamati oleh perancang TIMSS (Martin & Kelly, 1996), tanggapan siswa terhadap item yang lebih bebas yang hanya dinilai untuk kebenaran tidak akan menghasilkan informasi tentang bagaimana siswa mendekati masalah. Jadi TIMSS mengembangkan sistem pengkodean khusus yang juga dapat digunakan penilaian kelas untuk memberikan informasi diagnostik selain informasi tentang ketepatan respon siswa. Diusulkan agar sistem pengkodean dua digit digunakan untuk semua item pertanyaan respons bebas. Angka pertama, berkisar antara 1 dan 3, akan digunakan untuk skor kebenaran, dan digit kedua akan berhubungan dengan pendekatan atau strategi yang digunakan oleh mahasiswa. Angka antara 70 dan 79 akan diberikan ke kategori respons yang salah upaya, sementara 99 akan digunakan untuk menunjukkan bahwa siswa bahkan tidak mencoba. TIMSS ini sistem pengkodean, yang kemudian berhasil diadaptasi dengan baik untuk Studi Longitudinal di Tengah Matematika Sekolah (Shafer & Romberg, 1999), ditunjukkan pada Tabel 1 dengan menggunakan generic Contoh skema pengkodean bernilai satu poin.

Tabel 1. Contoh skema pengkodean menggunakan sistem pengkodean TIMSS

Tuliskan alasan mengapa kita haus di hari yang panas dan harus banyak minum.
Kode
Respons
Contoh
Respons yang benar
10
Mengacu pada keringat dan efek pendinginannya dan kebutuhan untuk mengganti
kehilangan akal
 
11
Mengacu pada keringat dan hanya penggantian air yang hilang.
• Karena saat kita panas, tubuh kita terbuka
pori-pori di kulit kita dan kita kehilangan banyak
garam dan cair.
12
Mengacu pada keringat dan hanya efek pendinginannya.
 
13
Mengacu pada keringat saja.
• Kami berkeringat.
• Tubuh Anda mengeluarkan banyak air.
• Kita berkeringat dan menjadi lebih kering.
19
Penjelasan lain yang bisa diterima.
 
Respons yang salah
70
Mengacu pada suhu tubuh (terlalu panas) tetapi tidak menjawab mengapa
kita menjadi haus
• Anda mendinginkan diri dengan meminum sesuatu yang dingin.
71
Mengacu hanya pada pengeringan tubuh.
• Tenggorokan Anda (atau mulut) menjadi kering.
• Anda menjadi lebih kering.
• Panas mengeringkan semuanya.
72
Mengacu untuk mendapatkan lebih banyak energi dengan minum lebih banyak air.
• Anda kelelahan.
76
Hanya mengulangi informasi di batang.
• Karena panas.
• Anda membutuhkan air.
79
Tanggapan salah lainnya
• Anda kehilangan garam.
Tanpa Respons
90
Dicoret atau dihapus, tidak terbaca, atau tidak dapat ditafsirkan
 
99
Kosong
 

 

Tanggapan siswa yang dikodekan sebagai 10, 11, 12, 13, atau 19 adalah benar dan mendapatkan satu poin. Kedua digit menunjukkan jenis respons dalam hal pendekatan yang digunakan atau penjelasan yang diberikan. SEBUAH Respon kode sebagai 10 menunjukkan respons yang benar yang menggunakan Strategi 1. Untuk item yang bernilai lebih dari satu titik, rubrik dikembangkan untuk memungkinkan kredit parsial untuk menggambarkan pendekatan yang digunakan atau penjelasan yang diberikan.

Tanggapan siswa yang dikodekan sebagai 70, 71, 76, atau 79 tidak benar dan mendapatkan poin nol. Kedua digit memberi kita representasi untuk kesalahpahaman yang ditampilkan, strategi yang salah digunakan, atau penjelasan tidak lengkap yang diberikan. Ini memberi guru gambaran yang bagus tentang di mana kelas sebagai keseluruhan tegakan, serta perbedaan individu, yang bisa berakibat memadai dan efektif umpan balik.

Tanggapan siswa dengan 90 atau 99 juga mendapatkan nol poin. Skor 90 berarti siswa berusaha tapi gagal total, dan 99 sama sekali tidak berusaha sama sekali.
Penambahan lain untuk sistem penilaian yang bisa sangat membantu adalah kode untuk tingkat kompetensi matematis Tentu saja, ketika seorang guru merancang sistem penilaian kelasnya dia akan menyeimbangkannya dalam kaitannya dengan tingkat kompetensi matematis. Tetapi ini tidak akan terjadi tentu mengarah pada informasi tentang tingkat masing-masing siswa.


Melihat kenyataan di lapangan, masih banyak guru-guru yang melakukan penilaian tetapi tidak menggunakan rubric penilaian yang sesuai. Bahkan sama sekali tidak mnggunakan rubric penilaian. Menurut anda, apakah yang menjadi kendala guru tersebut tidak menggunakan atau bahkan tidak membuat rubric penilain saat melakukan proses penilaian siswa?

Komentar

  1. menurut saya guru-guru terkendala dalam pencocokan antara materi dan rubrik yang digunakan saat materi-materi tertentu. sehingga tidak terlaksananya proses penilaian yang dimaksud

    BalasHapus
  2. menurut saya dapat dipastikan guru melakuakan penialain disetiap materi. hanya saja mungkin tidak menggunakan atau tidak membuat rubrik penilaian secara administratif saja. ykendalanya adalah faktor usia dpat membuat guru mls untuk membuat rubrik penilaian, atau bisa juga gaptek untuk mengetik pada komputersaja susah. dan kendala-kendala lainya. terima kasih

    BalasHapus
  3. menurut saya, banyak guru yang belum menggunakan penilaian autentik secara benar karena mungkin sebagian guru masih bingung dalam membuat rubrik penialain, sehingga sebagian guru lebih memilih melakukan penilaian secara manual.

    BalasHapus
  4. salah satu alasan guru tidak menggunakan penilaian secara benar bisa jadi guru tersebut belum memahami tentang penilaian tersebut

    BalasHapus
  5. Dalam pembelajaran guru menilai di setiap pertemuan namun sebagian Guru masih belum menerapkan penilain yang benar sesuai dengan kisi-kisi yang ada, hal ini bisa jadi karena guru belum memahami rubrik penilian yang benar.

    BalasHapus
  6. menurut saya berdasarkan pengalaman sehari hari memang guru tidak semua melakukan penilaian dengan menggunakan rubrik yang aesuai, kendalanya sangat beragam, waktu, kesulitan dalam membuat dan melaksanakannya. terkadang guru fokus untuk memberikan pemahaman siswa sehingga tidak dapat melaksakan tugas tugas yang lain dalam penilaian pembelajaran

    BalasHapus
  7. Yang menjadi kendala adalah terlalu banyaknya siswa yang diajar dan strategi guru kurang tepat dalam memberikan soal membuat guru tersebut kesulitan sendiri dalam menilai

    BalasHapus
  8. karena guru masih belum dapat melakukan penilaian secara baik dan benar baik karena belum menggetahui caranya ataupun karena sudah terlalu pro jadi langsung saja tanpa menggunakna rubrik

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini