DESAIN PENILAIAN KINERJA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A. Pengertian Penilaian Kinerja
Asesmen kinerja merupakan suatu penilaian yang menitikberatkan pada proses. Asesmen kinerja adalah asesmen yang memberi kesempatan siswa menunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa (Depsiknas, 2004). Asesmen kinerja sebagai metode pengujian yang meminta siswa untuk meminta jawaban atau hasil yang menunjukkan pengetahuan dan keahlian mereka. Asesmen kinerja merupakan pemahaman terbaik yang dapat berupa respon siswa dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks (Elliot, 1995). Asesmen kinerja adalah bentuk penilaian yang memungkinkan siswa mendemonstrasikan keterampilan atau perilaku, produk, serta dalam konteks tertantu yang mendemonstrasikan keduanya. Target asesmen kinerja, yakni pengetahuan, penalaran, keterampilan, produk, dan afektif (Stiggins, 1994). Asesmen kinerja meminta siswa untuk “menyelesaikan tugas-tugas kompleks dan nyata, dengan mengerahkan pengetahuan awal, pembelajaran yang baru diperoleh, dan keterampilanketerampilan yang relevan untuk memecahkan masalah-masalah realistik atau autentik.” Dengan demikian, asesmen kinerja merupakan salah satu bentuk asesmen yang meminta siswa untuk menunjukkan kinerja mereka sehingga dapat diketahui pengetahuan mereka. Asesmen kinerja menuntut siswa untuk aktif karena yang dinilai bukan hanya produk tetapi yang lebih penting adalah keterampilan yang mereka punya.
Asesmen dalam pembelajaran matematika merupakan proses memperoleh informasi tentang pengetahuan kemampuan matematika siswa, kemampuan menggunakan matematika, dan kemampuan membuat kesimpulan untuk berbagi tujuan (NCTM, 1995). Asesmen kinerja dalam matematika meliputi presentasi tugas matematika, proyek atau investigasi, observasi, wawancara (interview), dan melihat hasil (product).
B.   Cara Mendesaian Asesmen Kinerja
Menurut Stiggins (1994), mendesain asesmen kinerja melalui tiga langkah utama, yaitu sebagai berikut.
1.    Memilih kinerja
    Kinerja dapat berupa serangkaian keterampilan atau perilaku yang harus mendemonstrasikan siswa, produk yang harus dibuat, serta konteks tertentu yang mendemonstrasikan keduanya. Asesmen kinerja difokuskan pada observasi dan judgement terhadap fungsi kinerja siswa dalam kelompok. Selanjutnya putuskan kriteria kinerja (kriteria yang jelas dan memadai hal krusial dalam asesmen kinerja).
2.    Penyiapan dan pengembangan sarana latihan (excercise) untuk unjuk kerja
       Ada berbagai macam cara yang dapat digunakan dalam langkah ini, yaitu:
      1)dengan menyajikan latihan terstruktur untuk jenis kinerja yang diinginkan, atau
      2)dengan mengobservasi  dan mengevaluasi berbagai jenis kinerja selama pembelajaran
           pengumpulan informasi tentang kinerja “tipikal” siswa, atau
      3)mengkombinasikan keduanya. Selanjutnya, putuskan seberapa banyak latihan yang diperlukan. 

3.    Pensekoran dan pencatatan
      Perhatikan tingkat rincian hasil, apakah dengan menganalisis tiap kinerja secara terpisah ataukah secara holistik. Selanjutnya, pilih metode (sistem pencatatan) untuk mentransformasikan kriteria menjadi informasi yang berguna, misalnya ceklis, skala bertingkat, catatan anekdotal, dan catatan mental. Terakhir, perlu diputuskan siapa yang akan mengamati dan mengevaluasinya (umumnya guru).

C.   Rubrik atau Pedoman Penyusunan Asesmen Kinerja
Untuk menjaga objektivitas asesmen kinerja diperlukan penetapan rubrik. Rubrik ini disusun berdasarkan tujuan asesmen. Dalam melaksanakan asesmen dengan menggunakan rubrik sebaiknya siswa mengetahui tentang kriteria apa saja yang akan dinilai sehingga mereka dapat memaksimumkan kemampuan yang dimilikinya.
Rubrik atau kriteria penilaian adalah suatu deskripsi tentang dimensi-dimensi untuk memutuskan kinerja siswa, suatu skala nilai untuk menilai dimensi-dimensi yang telah ditetapkan, dan standar untuk memutuskan kinerja (Karim, 2003). Rubrik berarti hirarki dari standar yang digunakan untuk menilai kerja siswa. Rubrik membantu guru untuk menilai kinerja siswa dengan lebih akurat dan objektif dan memfokuskan guru untuk menilai kinerja bukan siswanya (Bush & Leinwald, 2000). Terdapat 2 macam rubrik, yaitu holistik dan analitik.
Rubrik holistik menggambarkan kualitas kinerja untuk tiap level sedangkan rubrik analitik memberikan nilai untuk komponen tugas. Kedua rubrik tersebut memiliki keuntungan masing-masing. Keuntungan rubrik holistik, antara lain pekerjaan dinilai melalui keseluruhan kualitas, semua proses diberikan bobot yang sama, serta menekankan pada proses berpikir dan berkomunikasi dalam matematika, serta perhitungannya secara menyeluruh. Keuntungan rubrik analitik, antara lain menekankan pada cara yang berbeda dalam penyelesaian tugas, beberapa proses mungkin mendapatkan penekanan atau bobot yang berbeda, lebih mudah diterapkan, serta memberikan sebagian kredit, serta perhitungannya lebih terperinci (Bush & Leinwald, 2000). Contoh rubrik-rubrik asesmen dalam pembelajaran matematika, yaitu:

Tabel 1. Rubrik Holistik
Nilai
Keterangan
Kriteria Umum
3
Sangat Memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat dan teliti, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, menggunakan strategi yang tepat, serta alasan tepat dan masuk akal
2
Memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep secara tepat, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar dan teliti, penggunakan strategi tepat, serta alasan tepat tapi kurang masuk akal
1
Kurang memuaskan
Menunjukkan pemahaman konsep kurang tepat, perhitungan benar, menggunakan tabel, gambar, dan grafik secara benar tetapi kurang teliti, penggunakan strategi kurang tepat, serta alasan kurang tepat
0
Tidak memuaskan
Menunjukkan ketidakpemahaman terhadap konsep, perhitungan tidak tepat, tidak menggunakan tabel, gambar, ataupun grafik, menggunakan strategi tidak tepat, dan alasan tidak tepat.

Tabel 2. Rubrik Analitik
Keterangan
Nilai dan Kriteria Umum
Pemahaman masalah
Tidak memahami (0)
Memahami sebagian (3)
Dapat memahami (6)
Perencanaan strategi
Strategi salah (0)
Sebagian strategi benar (3)
Semua strategi tepat (6)
Jawaban yang didapat
Jawaban salah (0)
Sebagian jawaban benar (3)
Jawaban benar (6)
     

Tabel 3. Contoh Rubrik Tugas Proyek Matematika (Kelompok)
No
Kriteria
Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
Kreatifitas
2
Kejelasan atau keterangan jawaban lengkap
3
Kebenaran jawaban
4
Kerjasama dengan sesama anggota kelompok
5
Keakuratan jawaban/gambar
6
Penggunaan strategi benar dan tepat
7
Kerapian atau keindahan


Tabel 4. Contoh Rubrik Penilaian Presentasi Matematika (Individu)
No
Kriteria
Nomor Absen

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
dst
1
Pemahaman konsep
·         Menunjukkan pemahaman terhadap konsep matematika
·         Kebenaran materi matematika yang disampaikan.

























2
Kejelasan atau keterangan jawaban lengkap
·         Penyampaian atau jawaban pertanyaan jelas dan dapat dipahami
·         Menghargai pendapat yang berbeda
·         Penjelasan materi terorganisasi dengan baik

























3
Kebenaran jawaban
·         Penggunaan strategi benar dan tepat
·         Memenuhi penyelesaian masalah yang diinginkan
·         Kerapian atau keindahan

























D.   Tujuan dan Manfaat Asesmen Kinerja
Menurut Popham tujuan asesmen kinerja adalah :
1.     Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar
2.     Memonitor kemajuan atau perkembangan siswa
3.     Menentukan level atau jenjang kemampuan siswa
4.     Mempengatuhi persepsi public tentang efektifitas pembelajaran
5.     Mengevaluasi kinerja guru dan menglasifikasi tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh guru.
      Lima tuntutan belajar dalam asesmen kinerja menurut Marjono (1993:18), yaitu:
1.     Sikap dan persepsi tentang belajar
2.     Perolehan dan pemanduan pengetahuan
3.     Perluasan dan penajaman pengetahuan
4.     Penggunaan pengetahuan secara lebih bermakna
5.     Pelatihan berfikir kritis dan kreatif
Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari penerapan asesmen kinerja, antara lain:
1.    Asesmen kinerja dapat membawa guru dan siswa ke dalam kesetaraan dalam asesmen
(Stiggins,1994).
2.    Asesmen kinerja dapat merefleksikan pencapaian standar, mensintesis dalam pembelajaran,
menggambarkan keadaan sesungguhnya, menyediakan berbagai pilihan sesuai minat dan pilihan siswa, memfasilitasi refleksi-diri (Campbel et al., 2000).
3.    Mandat dari standar. Di dalam Standar Isi untuk IPA SMP/MTs dikatakan, “Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru”. Di dalam Standar Penilaian dinyatakan secara eksplisit “tes kinerja” sebagai salah satu alat utama penilaian di kelas.
Manfaat asesmen kinerja menurut Airasian (1994) yaitu mengindikasikan bagaimana siswa menggunakan informasi untuk memperlihatkan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas dan menghasilkan sesuatu dalam situasi dengan menggambarkan kehidupan sebenarnya. Manfaat lainnya adalah bahwa satu kali asesmen kinerja dikembangkan, maka instrumen tersebut dapat digunakan terus menerus.
Manfaat lain dari asesmen kinerja dalam pembelajaran matematika (Ott, 1995), yaitu:
1.    Asesmen kinerja menekankan siswa untuk berlomba dengan dirinya sendiri daripada dengan siswa lain.
2.    Dapat menambah pemahaman siswa tentang apa yang diketahui dan dilakukan
3.    Dapat menghilangkan ketakutan terhadap matematika karena tidak ada jawaban benar atau salah.
4.    Dapat menuntun pembelajaran selanjutnya karena tidak terpisah dari pembelajaran.
5.    Membuat pembelajaran lebih relevan ke kehidupan siswa dan dunia nyata.

Sedangkan menurut Stenmark (2000), manfaat asesmen kinerja untuk siswa antara lain:
1.    Memberikan kesempatan siswa untuk memperlihatkan kemampuannya baik kecepatan maupun ketepatan.
2.    Melakukan pengorganisasian dan pemikiran siswa sendiri.
3.    Memahami bahwa matematika bukanlah ‘serangkaian peraturan untuk diingat dan diikuti’ tetapi lebih kepada proses yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan masalah.
4.    Meningkat motivasi.
5.    Mengetahui kekuatan dan kegunaan matematika.

Dengan demikian, melalui asesmen kinerja, siswa dibiasakan untuk menunjukkan kinerjanya dalam segala hal, baik untuk memecahkan masalah, mengutarakan pendapat, berdiskusi, maupun memberikan alasan dari jawaban yang diberikan.


Permasalahan: Kenyataan di lapangan masih banyak guru-guru yang belum melaksanakan penilaian kinerja yang baik. menurut anda apa yang menjadi kendala dari
hal tersebut? Dan bagaimana solusi yang baik untuk menyelesaikan permasalahan ini?

Komentar

  1. kendala yang biasanya muncul dalam penilaian kinerja adalah: (1) standar yang tidak jelas, (2) pengaruh masalah itu sendiri (hallo effect), (3) terlalu longgar (leniency) atau terlalu ketat (strictness). (4) kecenderungan central atau terpusat, (5) prasangka pribadi, (6) pengaruh kesan terakhir (recency effect). Berbagai distorsi tersebut menurut beberapa ahli tersebut dapat dikurangi melalui pemberian latihan bagi para penilai, umpan balik, dan pemilihan tehnik-tehnik penilaian kinerja secara tepat.

    BalasHapus
  2. Menurut saya kendala pelaksanaan penilaian kinerja adalah waktu yang di butuhkan dalam membuat rubrik penilaian, penyelesaian tugas-tugas oleh siswa, sehingga guru tidak optimal dalam pelaksanaannya, solusinya, guru harus mengatur waktu seefisien mungkin, memulai dengan bertahap dengan memperhatikan rubrik yang sesuai dengan apa yang ingin dinilai.

    BalasHapus
  3. Senada dengan geminia dan kak suci, saat dilapangan yg sering terjadi adalah kendala waktu, alasannya yaitu standar operasional yg kurang jelas, sehingga siswa tidak terlalu paham untuk melaksanakannya seperti apa, tujuannya apa, dsb. Kemungkinan lain adalah tingkat kesulitan permasalahan yg diberikan oleh guru, sebaiknya dalam penilaian kinerja, diurutkan dari yg mudah, sedang lalu sulit.
    Solusinya: dalam melaksanakan penilaian kinerja harus ada aturan perwncanaan matang, ada aturan jelas, arahnya mau kemana sehingga siswa tidak bingung dan waktu pelaksanaan tepat sesuai perencanaan. Rubrik penilaiannya juga harus jelas, dan guru memberi arahan kepada siswa dengan jelas.

    BalasHapus
  4. banyak hal yang menjadi kendala guru mengapa guru belum melaksanakan penilaian yang baik. sama dengan yang telah diungkapkan oleh teman sebelumnya. selain itu menurut saya kendala lain adalah kurangnya pemahaman guru tentaang penilaian yang baik seperti apa. instrumen ap yang paling baik, kisi kisinya, bentuk tes nya seperti apa..
    untuk kendala yang saya paparkan mungkin solusinya adalah berbagi pengetahuan dengan teman sejawat dan mengikuti forum musyawarah MGMP sehingga guru akan terupdate hal hal apa saja yang harus dilakukan oleh guru zaman now, bagaimana aturan yang berlaku dan hal hal ap saja yang wajib dilakukan oleh guru

    BalasHapus
  5. menurut saya guru-guru sudah melaksanakan penilaian kinerja, hanya saja "peniaian kinerja" ini kurang mendapat perhatian yang cukup dari guru, sehingga guru terkesan mengabaikannya, yang menjadi kendalanya adalah banyak sekali administrasi atau bahan-bahan yang perlu dipersiapkan guru saat merancang penilaian kinerja seperti soal-sola kontekstual, rubrik penskoran dan hal lainnya. solusinya adala guru dapar bekerjasama dengan guru lainnya dan melakukan diskusi misalnya seperti kmunitas MGMP, guru dapat kerjasama dengan gurulainnya untuk membuat bahan ajar, atau soal-soal yang kontekstual serta rubrik penskoran dan adm lainnya yang memberatkan jika hanya dilakukan oleh seorang guru. dengan diskusi guru bisa meningkatkan pemahamannya mengenai materi pembelajaran ataupun teknik mengajar lainnya. terima kasih

    BalasHapus
  6. Salah satu yang menjadi kendala adalah guru kurang memahami konsep penilaian yang dia buat, hal itu bisa terjadi karena banyaknya beban penilaian yang harus dipenuhi oleh guru.

    BalasHapus
  7. Menurut saya, kendala yang dihadapi guru dalam penilaian yaitu guru belum memahami prinsip-prinsip asesmen dalam pembelajaran matematika yaitu
    a. Asesmen Ditujukan untuk meningkatkan kualitas belajar dan pengajaran.
    b. Metode asesmen harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa mengungkapkan apa yang mereka ketahui, bukan mengungkap apa yang tidak diketahui.
    c. Harus bersifat operasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran matematika.
    d. Kualitas asesmen tidak ditentukan oleh kemungkinan untuk dapat melakukan skoring secara obyektif.
    e. Harus bersifat praktis (mudah diterapkan).

    Dengan memahami prinsip asesmen maka guru tidak merasa ada kendala dalam penilaian. Serta guru harus memilih teknik-teknik penilaian yang mudah dan praktis untuk diterapkan.

    BalasHapus
  8. Karena guru kurang memahami tentang penilaian yang telah dibuatnya
    dengan belajar dengna teman sejawat dan berdiskusi

    BalasHapus
  9. Kenyataan di lapangan masih banyak guru-guru yang belum melaksanakan penilaian kinerja yang baik, kita sebagai guru, harus mengevaluasi diri sendiri,, dan mungkin perlu bersosialisasi dengan guru-guru lainnya.

    BalasHapus
  10. Menurut saya kendala yg dihadapi guru dlm penilaian kinerja adalah waktu yg dibutuhkan, kemudian penyiapan dan pengembangan sarana latihan untuk kerja siswa.

    BalasHapus
  11. Menurut saya kendala yg dihadapi guru dlm penilaian kinerja adalah waktu yg dibutuhkan, kemudian penyiapan dan pengembangan sarana latihan untuk kerja siswa.

    BalasHapus
  12. menurut saya yang menjadi kendala adalah kurangnya pengetahuan sebagian guru terhadap sistem penilaian yang baik dan waktu yang kurang untuk membuat penialain

    BalasHapus

Posting Komentar